Sudah Berdua

“Yang, ada purnama lho,” bisiku padanya. 

Malam ini aku terjaga sembari melihat istriku tidur lelap karena kelelahan mengetik. Kelelapannya kadang buyar kala aku mendengkur dengan irama tertentu. Unik tapi mengganggu, ujarnya. 

“Sial, sejak kapan aku mendengkur,” gerutuku. 

Sudah lama aku tak terjaga seperti ini sejak malam sebelum hari pernikahan kami. Hey, ini bukan salahnya! Hanya kebiasaan lama yang muncul kembali dan ini kesempatan agar bisa bercumbu dengan pikiranku. Oke, ini bukan perselingkuhan. Mungkin?

Tenang, di pikiranku hanya ada dia. Istriku. Dia sedang lelap dan memimpikan suaminya, yaitu Aku. Yakin? 

“Oke, senang berbincang padamu lagi tapi aku harus pergi. Aku ingin mencari tahu apa isi mimpinya selagi ada kesempatan,” bisikku. 

Kita hanya berdua di sini. 

Kopi

Hmm..
.
.
.
.
.
Nanti saja..

Ketika tegukan itu terasa beda. Aku terdiam, mana yang lebih baik antara pahit atau tak merasakan sesuatu. Hambar? Bukan, hanya kosong.

Lagoi, 1 Januari 2016

Posted from WordPress for Android

Tak Mengundang

Saat ia hadir menerjang dari sudut sehingga menumpulkan segalanya, terutama waktu.

Sungguh merugi kala waktu terhambat dan kami hanya diam menengok ke belakang, sangat lama.

Lagi-lagi ia sebab ada semua ini.

Aku bukanlah milikku, dia juga bukan miliknya. Kami hanya peminjam yang bermain dengan apa yang dititipkan.

Titipan ini sangat rapuh bagi yang lemah menjaganya. Bahkan Sang Majikan menyarankan untuk diam.

Ya, diam dikala ia hadir.

Salam manis dikecup bila ia bertemu kami yang lengah dengan titipan. Seketika itu, titipan tumpah ruah menggusur logika dengan nafsu. Dimana kami menjadi buta hingga terhentak teguran Sang Majikan.

Diamlah lalu jaga dengan mintalah padaKu semata. Kelak, titipan itu akan bersatu tanpa bicara. Bila bertemu ia kembali, maka kenyamanan yang kalian raih.

Ya, ia. Rindu.

Maka aku diam disudut tumpukan buku dan sabar yang menjadi karibku.

Lagoi, 31 Agustus 2015

Posted from WordPress for Android